Langsung ke konten utama

Dzikir Fida’ vs Yasinan: Mana Lebih Utama? Ini Penjelasan Adil + Contoh Praktis 7 Hari

 Dalam tradisi masyarakat Muslim Indonesia, khususnya dalam acara tahlilan, sering dijumpai dua amalan: yasinan dan dzikir fida’ (‘ataqoh).

Namun muncul pertanyaan:
👉 “Mana yang lebih utama, yasinan atau dzikir fida’?”

Tulisan ini akan menjawab secara adil, ilmiah, dan berdasarkan dalil, agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Apa Itu Dzikir Fida’?

Kata fida’ berarti:
➡️ tebusan / pembebasan

Dzikir fida’ (‘ataqoh) adalah amalan dzikir yang bertujuan sebagai ikhtiar memohon pembebasan dari siksa, baik untuk diri sendiri maupun orang lain (terutama mayit).

Biasanya dilakukan dengan:

  • membaca Lā ilāha illallāh dalam jumlah banyak
  • atau membaca surat Al-Ikhlas

Dalil Dzikir (Dasar yang Kuat)

1. Tahlil adalah Dzikir Paling Utama

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
(رواه الترمذي)

Artinya:
“Dzikir yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh.”
(HR. Tirmidzi – hasan)


2. Tahlil Berkaitan dengan Keselamatan

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
(رواه أبو داود)

Artinya:
“Barang siapa akhir ucapannya Lā ilāha illallāh, maka ia masuk surga.”
(HR. Abu Dawud)


3. Dalil Khusus Dzikir Fida’ (70.000)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا...
(خزينة الأسرار)

Artinya (ringkas):
Barang siapa membaca tahlil 71.000 kali maka menebus dirinya.

📌 Catatan penting:
Hadis ini lemah (dha‘if) → diamalkan dalam fadhā’ilul a‘māl, bukan dalil utama.

Sejarah dan Sumber Dzikir Fida’

Amalan ini dikenal dalam literatur ulama, di antaranya dalam kitab:

1. Khazīnatul Asrār karya Sayyid Muhammad Haqqi an-Nāzili

Disebutkan riwayat:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
مَنْ قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ أَحَدَ وَسَبْعِينَ أَلْفًا اشْتَرَى بِهِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكَذَا فَعَلَهُ لِغَيْرِهِ
(خزينة الأسرار)

Artinya:
“Barang siapa membaca Lā ilāha illallāh sebanyak 71.000 kali, maka ia menebus dirinya dari Allah, dan hal itu juga dapat dilakukan untuk orang lain.”

📌 Catatan penting:
Hadis ini berstatus dha‘if (lemah), sehingga digunakan dalam fadhā’ilul a‘māl, bukan sebagai dalil utama yang pasti.


2. Penjelasan dalam Syarh al-Futūḥāt al-Madaniyyah

Dalam kitab ini dijelaskan praktik ‘ataqah di kalangan ulama, serta disebutkan kisah berikut:


Kisah Ulama: Pemuda Melihat Ibunya di Neraka

وَرُوِيَ أَنَّ الشَّيْخَ أَبَا الرَّبِيعِ الْمَالَقِيَّ كَانَ عَلَى مَائِدَةِ طَعَامٍ،
وَكَانَ قَدْ ذَكَرَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ سَبْعِينَ أَلْفَ مَرَّةٍ،
وَكَانَ مَعَهُمْ شَابٌّ مِنْ أَهْلِ الْكَشْفِ،
فَلَمَّا مَدَّ يَدَهُ إِلَى الطَّعَامِ بَكَى، وَامْتَنَعَ مِنَ الطَّعَامِ.

فَقَالُوا لَهُ: لِمَ تَبْكِي؟
قَالَ: أَرَى أُمِّي فِي النَّارِ.

فَقَالَ الشَّيْخُ فِي نَفْسِهِ:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي قَدْ هَلَّلْتُ سَبْعِينَ أَلْفًا،
وَجَعَلْتُهَا عِتْقًا لِأُمِّ هَذَا الشَّابِّ مِنَ النَّارِ.

فَقَالَ الشَّابُّ:
الْحَمْدُ لِلَّهِ، أَرَى أُمِّي قَدْ خَرَجَتْ مِنَ النَّارِ.


Artinya (ringkas):
Seorang pemuda melihat ibunya di neraka, lalu seorang ulama menghadiahkan bacaan tahlil 70.000. Setelah itu, pemuda tersebut melihat ibunya telah keluar dari neraka.

📌 Catatan:

  • Ini bukan hadis, tetapi kisah ulama
  • Berfungsi sebagai penguat amalan, bukan dalil utama



Dalil Yasinan (Al-Qur’an untuk Mayit)

1. Al-Qur’an Memberi Syafaat

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
(رواه مسلم)

Artinya:
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan memberi syafaat bagi pembacanya.”
(HR. Muslim)


2. Hadis Yasin untuk Mayit

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ
(رواه أبو داود)

Artinya:
“Bacakanlah Yasin kepada orang yang meninggal di antara kalian.”

📌 Status:

  • Diperselisihkan (antara hasan dan dha‘if)
  • Tetap diamalkan dalam keutamaan amal

3. Dalil Sampainya Pahala

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
نَعَمْ (ketika ditanya sedekah untuk mayit)
(HR. Bukhari & Muslim)

➡️ Menunjukkan pahala amal bisa sampai kepada mayit


Kesimpulan Dalil (Paling Penting)

AmalanKekuatan Dalil
Dzikir (tahlil)Sangat kuat
Membaca Al-Qur’anSangat kuat
Hadiah pahalaKuat
Angka 70.000Lemah

Jadi, Mana Lebih Utama?

Jawaban yang adil dan ilmiah:

👉 Tidak perlu dipertentangkan

Karena:

  • Yasinan → membaca Al-Qur’an
  • Dzikir fida’ → dzikir (tahlil), bahkan disebut dzikir paling utama

👉 Keduanya sama-sama baik dan bisa digabung


Contoh Praktis: Pola 7 Hari (Ringan & Terukur)

Malam Pertama

  • Tawassul
  • Yasinan
  • Tahlil
  • Doa

Malam Kedua – Keenam (Dzikir Fida’ Bertahap)

  • Setiap orang membaca:
    Lā ilāha illallāh 500 kali
  • Minimal jamaah: 30 orang

📊 Perhitungan:

  • 500 × 30 = 15.000 per malam
  • 5 malam = 75.000 kali

➡️ Target tercapai tanpa memberatkan


Malam Ketujuh

  • Tawassul
  • Yasinan
  • Tahlil
  • Doa

(Tanpa dzikir fida’)


Keunggulan Pola Ini

✔ Ringan dan realistis
✔ Dzikir tetap banyak
✔ Menggabungkan:

  • Al-Qur’an
  • Dzikir
  • Doa

✔ Menjaga tradisi masyarakat


Sikap yang Benar dalam Perbedaan

  • Jangan saling menyalahkan
  • Jangan memaksakan
  • Dahulukan persatuan

Kaidah penting:
👉 “Yang dilihat adalah tujuan, bukan sekadar bentuk amalan”


Kesimpulan Akhir

  • Dzikir fida’ → kuat di dzikirnya, lemah di angka
  • Yasinan → kuat di Al-Qur’annya
  • Keduanya → boleh diamalkan
  • Yang terbaik → dikombinasikan

TATA CARA DZIKIR FIDA’ (‘ATAQOH)

(Contoh untuk: Almarhum Suparman bin Marsidi)


1. Tawassul Umum

Membaca tawassul sebagaimana biasa, dihadiahkan kepada:

  • Nabi Muhammad ﷺ
  • Para sahabat
  • Para wali dan ulama
  • Seluruh kaum muslimin

Lalu membaca Al-Fatihah


2. Tawassul Khusus kepada Almarhum

Dikhususkan kepada:

➡️ Almarhum Suparman bin Marsidi

Dibaca dalam hati atau dilafalkan:

إِلَىٰ رُوحِ الْمَرْحُومِ
سُفَرْمَانْ بِنْ مَرْسِيدِي
الْفَاتِحَة


3. Niat Dzikir Fida’

Lafal Niat (dipimpin imam):

نَوَيْنَا ذِكْرًا تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى،
وَجَعَلْنَا ثَوَابَهُ فِدَاءً عَنْ رُوحِ
سُفَرْمَانْ بِنْ مَرْسِيدِي

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ،
وَنَجِّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Artinya:

Kami niat berdzikir untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala, dan kami jadikan pahalanya sebagai tebusan untuk ruh almarhum Suparman bin Marsidi.
Ya Allah, ampunilah beliau, rahmatilah beliau, dan selamatkan beliau dari siksa kubur dan siksa neraka.


4. Pengantar Dzikir

Dibacakan oleh imam:

اَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Artinya:
Dzikir yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh.
(HR. Tirmidzi)


5. Pelaksanaan Dzikir Fida’

Membaca:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Ketentuan:

  • Setiap orang membaca: 500 kali
  • Jumlah minimal: 30 orang

Perhitungan:

  • 500 × 30 = 15.000 per malam
  • Dilaksanakan selama 5 malam
  • Total = 75.000 kali

➡️ Target dzikir fida’ tercapai (≥70.000)


6. Doa Penutup Dzikir Fida’

Doa (dipimpin imam):

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا هٰذَا الذِّكْرَ،
وَاجْعَلْ ثَوَابَهُ وَاصِلًا إِلَىٰ رُوحِ
سُفَرْمَانْ بِنْ مَرْسِيدِي

وَاجْعَلْهُ فِدَاءً لَهُ مِنَ الْعَذَابِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ،
وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ

اللَّهُمَّ نَوِّرْ قَبْرَهُ، وَاجْعَلْهُ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ،
وَلَا تَجْعَلْهُ حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النَّارِ

اللَّهُمَّ نَجِّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ،
وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

اللَّهُمَّ ارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ،
وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ،
وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ


Artinya:

Ya Allah, terimalah dzikir kami ini, dan sampaikanlah pahalanya kepada ruh almarhum 

Suparman bin Marsidi.  (sebutkan almarhum yang dituju)

Jadikanlah dzikir ini sebagai penebus baginya dari siksa.

Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakan dan maafkanlah dia.
Muliakan tempat tinggalnya dan lapangkan kuburnya.

Ya Allah, terangilah kuburnya, jadikan kuburnya taman dari taman-taman surga, dan jangan jadikan kuburnya lubang dari lubang neraka.

Ya Allah, selamatkan dia dari siksa kubur, siksa akhirat, dan siksa neraka.

Ya Allah, angkatlah derajatnya bersama orang-orang yang mendapat petunjuk, gantikan kebaikan bagi keluarganya yang ditinggalkan, dan ampunilah kami dan dia, wahai Tuhan semesta alam.



Penutup

Selama tujuan kita adalah:

  • mendoakan mayit
  • mendekatkan diri kepada Allah
  • memperbanyak dzikir

maka semua ini termasuk amalan yang baik.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

kitab Mukhtārul Ahādīts no. 298 - Allah Menurunkan Pertolongan Sesuai Kadar Ujian

  Dalam kehidupan ini, setiap manusia pasti akan menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan. Namun, sebagai seorang mukmin, kita harus meyakini bahwa Allah tidak akan membebani kita dengan sesuatu yang melebihi kemampuan kita. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: إِنَّ اللَهَ تَعَالَى يُنْزِلُ الْمَعونَةَ عَلَى قَدْرِ المَؤونَةِ وَيُنْزِلُ الصَّبْرَ عَلَى قَدْرِ البَلَاء "Sesungguhnya Allah Ta'ala menurunkan pertolongan sesuai dengan kadar beban yang dipikul, dan menurunkan kesabaran sesuai dengan kadar ujian." (Diriwayatkan oleh Ibnu 'Ady dari Abu Hurairah, dalam kitab Mukhtārul Ahādīts no. 298) Hadis ini mengandung pesan yang mendalam bahwa setiap cobaan yang datang dalam hidup seseorang sudah diiringi dengan pertolongan dari Allah. Seseorang tidak akan diuji melebihi batas kemampuannya, karena Allah juga menurunkan kesabaran sesuai dengan kadar ujian yang diberikan. Makna Hadis Allah Tidak Akan Membiarkan Hamba-Nya Tanpa Perto...

Mukhtaru Al-Ahadits No. 299 - Ghirah Allah dan Seorang Mukmin

  Dalam Islam, sifat ghirah (kecemburuan terhadap sesuatu yang benar) merupakan salah satu tanda iman. Hadis berikut ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat ghirah, demikian juga seorang mukmin. 299 - إِنّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ، وَإِنّ المُؤمِنَ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِي المُؤْمِنُ ما حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ، إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ (رَوَاهُ البُخَارِيّ وَمُسْلِمٌ) Artinya: Sesungguhnya Allah memiliki ghirah, dan seorang mukmin juga memiliki ghirah. Ghirah Allah adalah ketika seorang mukmin melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Allah kepadanya. Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang berserah diri. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah r.a.) Makna Hadis: Dalam hadis ini disebutkan bahwa Allah memiliki ghirah, yaitu kecemburuan dalam arti ketidaksukaan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh hamba-Nya. Ghirah seorang mukmin juga merupakan cerminan dari keteguhan imannya dalam membela kebenaran dan me...

Mukhtarul Ahadis No. 297 - Menjaga Keberkahan dengan Istighfar dan Memakmurkan Rumah Allah

  Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Anas radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنِّي لَأُهْمِلُ أَهْلَ الْأَرْضِ عَذَابًا، فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي وَالْمُتَحَابِّينَ فِيَّ، وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ صَرَفْتُ عَذَابِي عَنْهُمْ "Sesungguhnya Aku akan menimpakan azab kepada penduduk bumi, tetapi ketika Aku melihat orang-orang yang memakmurkan rumah-Ku, orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, dan orang-orang yang beristighfar pada waktu sahur, maka Aku palingkan azab-Ku dari mereka." (HR. Al-Baihaqi dari Anas, Mukhtarul Ahadis No. 297) Hadis ini memberikan pelajaran berharga bagi setiap Muslim tentang tiga amalan yang dapat menjadi penyebab tertahannya azab Allah dari suatu kaum. Mari kita renungkan lebih dalam maknanya: 1. Memakmurkan Rumah Allah Orang-orang yang senantiasa meramaikan masjid dengan shalat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, dan berbagai aktivitas ibadah lainnya termasuk dalam...