Langsung ke konten utama

Postingan

Dzikir Fida’ vs Yasinan: Mana Lebih Utama? Ini Penjelasan Adil + Contoh Praktis 7 Hari

 Dalam tradisi masyarakat Muslim Indonesia, khususnya dalam acara tahlilan, sering dijumpai dua amalan: yasinan dan dzikir fida’ (‘ataqoh) . Namun muncul pertanyaan: 👉 “Mana yang lebih utama, yasinan atau dzikir fida’?” Tulisan ini akan menjawab secara adil, ilmiah, dan berdasarkan dalil , agar tidak terjadi kesalahpahaman. Apa Itu Dzikir Fida’? Kata fida’ berarti: ➡️ tebusan / pembebasan Dzikir fida’ (‘ataqoh) adalah amalan dzikir yang bertujuan sebagai ikhtiar memohon pembebasan dari siksa , baik untuk diri sendiri maupun orang lain (terutama mayit). Biasanya dilakukan dengan: membaca Lā ilāha illallāh dalam jumlah banyak atau membaca surat Al-Ikhlas Dalil Dzikir (Dasar yang Kuat) 1. Tahlil adalah Dzikir Paling Utama قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ (رواه الترمذي) Artinya: “Dzikir yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh .” (HR. Tirmidzi – hasan) 2. Tahlil Berkaitan dengan Keselamatan قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: م...
Postingan terbaru

Mukhtarul Ahadis No. 300 - Kepemimpinan yang Diberikan kepada Orang Fasik: Sebuah Peringatan dari Hadis Nabi

  Dalam kehidupan bermasyarakat, kepemimpinan adalah amanah besar yang harus diberikan kepada orang yang memiliki sifat amanah dan bertakwa. Namun, ada kalanya kepemimpinan jatuh ke tangan orang yang tidak layak, bahkan kepada orang yang fasik dan zalim. Hal ini telah diperingatkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah: "إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الفَاجِرِ" "Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menolong agama ini dengan (perantaraan) seorang laki-laki yang fasik." (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah) Makna Hadis Hadis ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang tidak memiliki keimanan yang kuat atau bahkan tergolong fasik, Allah bisa menjadikannya sebagai alat untuk menegakkan agama-Nya. Ini menunjukkan bahwa dalam sejarah, sering kali ada pemimpin yang secara pribadi tidak memiliki akhlak yang baik, namun tetap memberikan manfaat bagi umat Islam dalam aspek tertentu. Contohnya, dalam se...

Mukhtaru Al-Ahadits No. 299 - Ghirah Allah dan Seorang Mukmin

  Dalam Islam, sifat ghirah (kecemburuan terhadap sesuatu yang benar) merupakan salah satu tanda iman. Hadis berikut ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat ghirah, demikian juga seorang mukmin. 299 - إِنّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ، وَإِنّ المُؤمِنَ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِي المُؤْمِنُ ما حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ، إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ (رَوَاهُ البُخَارِيّ وَمُسْلِمٌ) Artinya: Sesungguhnya Allah memiliki ghirah, dan seorang mukmin juga memiliki ghirah. Ghirah Allah adalah ketika seorang mukmin melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Allah kepadanya. Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang berserah diri. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah r.a.) Makna Hadis: Dalam hadis ini disebutkan bahwa Allah memiliki ghirah, yaitu kecemburuan dalam arti ketidaksukaan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh hamba-Nya. Ghirah seorang mukmin juga merupakan cerminan dari keteguhan imannya dalam membela kebenaran dan me...

kitab Mukhtārul Ahādīts no. 298 - Allah Menurunkan Pertolongan Sesuai Kadar Ujian

  Dalam kehidupan ini, setiap manusia pasti akan menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan. Namun, sebagai seorang mukmin, kita harus meyakini bahwa Allah tidak akan membebani kita dengan sesuatu yang melebihi kemampuan kita. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: إِنَّ اللَهَ تَعَالَى يُنْزِلُ الْمَعونَةَ عَلَى قَدْرِ المَؤونَةِ وَيُنْزِلُ الصَّبْرَ عَلَى قَدْرِ البَلَاء "Sesungguhnya Allah Ta'ala menurunkan pertolongan sesuai dengan kadar beban yang dipikul, dan menurunkan kesabaran sesuai dengan kadar ujian." (Diriwayatkan oleh Ibnu 'Ady dari Abu Hurairah, dalam kitab Mukhtārul Ahādīts no. 298) Hadis ini mengandung pesan yang mendalam bahwa setiap cobaan yang datang dalam hidup seseorang sudah diiringi dengan pertolongan dari Allah. Seseorang tidak akan diuji melebihi batas kemampuannya, karena Allah juga menurunkan kesabaran sesuai dengan kadar ujian yang diberikan. Makna Hadis Allah Tidak Akan Membiarkan Hamba-Nya Tanpa Perto...

Mukhtarul Ahadis No. 297 - Menjaga Keberkahan dengan Istighfar dan Memakmurkan Rumah Allah

  Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Anas radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنِّي لَأُهْمِلُ أَهْلَ الْأَرْضِ عَذَابًا، فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي وَالْمُتَحَابِّينَ فِيَّ، وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ صَرَفْتُ عَذَابِي عَنْهُمْ "Sesungguhnya Aku akan menimpakan azab kepada penduduk bumi, tetapi ketika Aku melihat orang-orang yang memakmurkan rumah-Ku, orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, dan orang-orang yang beristighfar pada waktu sahur, maka Aku palingkan azab-Ku dari mereka." (HR. Al-Baihaqi dari Anas, Mukhtarul Ahadis No. 297) Hadis ini memberikan pelajaran berharga bagi setiap Muslim tentang tiga amalan yang dapat menjadi penyebab tertahannya azab Allah dari suatu kaum. Mari kita renungkan lebih dalam maknanya: 1. Memakmurkan Rumah Allah Orang-orang yang senantiasa meramaikan masjid dengan shalat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, dan berbagai aktivitas ibadah lainnya termasuk dalam...

Mukhtarul Ahadits 296 - Anjuran untuk Menjenguk Orang Sakit, Memberi Makan, dan Memberi Minum

  Sahabat pembaca yang budiman, Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas sebuah hadis qudsi yang sangat menyentuh hati dan memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kepedulian sosial. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Berikut adalah bunyi hadisnya: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي، قَالَ: يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَ انًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ، يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي، قَالَ: يَا رَبِّ كَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: أَمَا عَ لِمْتَ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِي فُلَانٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي، يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي، قَالَ: يَا رَبِّ وَكَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: اسْتَسْقَاكَ عَبْدِي فُلَانٌ فَلَم...

BAB BULAN SYA'BAN & DALILNYA (AMALAN DI MALAM NISHFU SYA’BAN)

  1. Membaca Yasin di Malam Nishfu Sya'ban وَأَمَّا قِرَاءَةُ سُوْرَة يس لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُّعَاءِ الْمَشْهُورٍ فَمِنْ تَرْتِيْبِ بَعْضٍ أَهْلِ الصَّلاحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ قِيلَ هُوَ الْبُونِي وَلَا بَأْسَ بِمِثْلِ ذلك (أسنى المطالب في أحاديث مختلفة المراتب ص (234) (وَمِنْ خَوَاصِ سُورَة يس) كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ أَنْ تَقْرَأَهَا لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْأُولَى بِنِيَّةِ طُولِ العُمْرِ وَالثَّانِيَةُ بِنَيَّةِ دَفْعِ الْبَلاءِ وَالثَّالِثَةُ بِنِيَّةِ الإِسْتِغْنَاءِ عَنِ النَّاسِ. Maknanya: Adapun membaca surah Yasin pada malam Nishfu Sya'ban setelah Maghrib beserta doa yang masyhur, itu berasal dari susunan sebagian orang-orang saleh dari dirinya sendiri. Dikatakan bahwa penyusunnya adalah Al-Buni, dan tidak mengapa melakukan hal tersebut. (Asna Al-Mathalib, hlm. 234) Di antara keutamaan surah Yasin, sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama, adalah membacanya pada malam Nishfu Sya'ban sebanyak tiga kali: pertama dengan n...