Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hadirin yang dirahmati
Allah,
Setiap jiwa pasti akan
merasakan mati. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu gerbang
menuju alam yang kekal. Saat ada saudara, kerabat, atau orang terdekat kita
berada di ambang ajal atau baru saja mengembuskan napas terakhir, ada tuntunan
indah dari Rasulullah SAW yang harus kita amalkan, sebagaimana diriwayatkan
oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim dari Ummu Salamah RA, beliau bersabda:
“Apabila kalian
menghadiri kematian orang-orang di antara kalian, maka pejamkanlah matanya,
karena sesungguhnya pandangan mata itu mengikuti keluarnya ruh. Dan ucapkanlah
perkataan yang baik, karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang diucapkan
oleh keluarga mayit.”
Dari hadis mulia ini, ada
dua perintah utama yang sarat makna:
Pertama: Segera
pejamkan mata jenazah dengan lembut.
Ini adalah sunnah dan
bagian awal pengurusan jenazah. Secara spiritual, mata manusia secara alami
akan menatap mengikuti arah keluarnya ruh, dari ujung kaki menuju ubun-ubun.
Jangan biarkan mata terbuka hingga kaku, dan jangan menjadikannya bahan
pembicaraan buruk atau prasangka bahwa mayit meninggal tidak tenang. Itu adalah
proses alami. Tugas kita cukup mengusap lembut kelopak matanya ke bawah,
sebagai wujud kasih sayang dan penghormatan terakhir. Hal ini juga mengajarkan
kita ketenangan hati dan keyakinan bahwa takdir Allah pasti berlaku.
Kedua: Ucapkanlah
perkataan yang baik.
Ini poin yang sangat
berat pertanggungjawabannya. Di saat ruh berpisah dari tubuh, para malaikat
hadir di ruangan itu dan mengamini setiap ucapan yang keluar dari mulut kita.
Oleh karena itu, haram hukumnya meratap, berteriak histeris, mengeluh,
menyalahkan takdir, atau melontarkan kata-kata penyesalan yang tidak
bermanfaat. Jika hal itu terjadi, berarti kita meminta hal buruk untuk diamini
malaikat.
Sebaliknya, ucapkanlah Innalillahi
wa inna ilaihi raji’un, panjatkan doa ampunan, dan bacakan kalimat-kalimat
kebaikan. Doa yang kita ucapkan saat itu menjadi bekal terbesar yang akan
menolong almarhum di alam kubur nanti.
Hadirin sekalian,
Tuntunan ini berlaku untuk
kita semua, dalam peran apa pun kita berada:
- Bagi orang tua, ajarkan anak-anak untuk
tenang dan berdoa, bukan ikut panik.
- Bagi suami atau istri, menutup mata pasangan
adalah pelayanan kasih sayang terakhir sebelum berpisah sementara waktu.
- Bagi anak, mendampingi orang tua di saat
sakaratul maut adalah puncak bakti yang paling dicari pahalanya.
- Bagi pemimpin, kyai, santri, atau menantu,
tugas kita adalah menenangkan suasana, mengingatkan keluarga agar sabar,
dan membantu urusan teknis pengurusan jenazah agar keluarga inti bisa
fokus berdoa.
Mari kita lihat contoh
nyata. Sering kali kita temui jenazah matanya terbuka lalu timbul gosip miring,
atau keluarga yang histeris hingga tidak ingat doa. Solusinya jelas dari hadis
ini: Pahami prosesnya agar tidak panik, tenangkan suasana, dan perbanyak doa.
Bahkan di rumah sakit sekalipun, di tengah kesibukan medis, kita tetap wajib
mengamalkan sunnah ini sebagai bentuk kawalan rohani bagi yang berpulang.
Sebagai penutup,
ingatlah: Kematian adalah sakral. Tugas kita yang masih hidup bukan sekadar
mengurus jenazah secara fisik, tapi mengantarkan mereka dengan penghormatan,
kelembutan hati, dan doa-doa terbaik. Semoga Allah memberikan kita ketenangan
saat menghadapi musibah, dan memudahkan langkah kita serta orang-orang yang
kita cintai menuju keabadian di surga-Nya.
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
1. Fase Beberapa
Minggu Sebelum Meninggal (Fase Awal)
- Sangat Mudah Lelah dan Tidur Lebih Lama: Tubuh mengalami penurunan metabolisme secara
drastis. Energi mereka sangat terbatas, sehingga mereka menghabiskan
sebagian besar waktunya untuk tidur.
- Nafsu Makan Berkurang Drastis: Tubuh tidak lagi membutuhkan banyak energi
dari makanan atau minuman. Mereka mungkin mulai menolak makanan keras,
kemudian hanya mau minum sedikit air, hingga akhirnya berhenti makan sama
sekali.
- Menarik Diri dari Lingkungan Sosial: Mereka cenderung tidak lagi tertarik pada
obrolan, hobi, atau orang-orang di sekitar mereka. Ini adalah proses
alamiah batin mereka untuk mulai melepaskan diri dari dunia.
2. Fase Beberapa Hari
Sebelum Meninggal (Fase Menengah)
- Perubahan Tanda Vital: Tekanan darah akan menurun drastis, detak
jantung menjadi tidak teratur (bisa sangat cepat atau sangat lambat), dan
suhu tubuh berubah-ubah.
- Perubahan Warna Kulit: Sirkulasi darah mulai melambat dan berfokus
hanya pada organ vital (jantung dan otak). Akibatnya, ujung jari tangan,
kaki, bibir, atau lutut mulai terlihat membiru, pucat, atau bercak-bercak
keunguan (mottling). Saat disentuh, kulit mereka akan terasa
dingin.
- Penurunan Fungsi Buang Air: Karena asupan makanan/minuman berkurang dan
fungsi ginjal menurun, frekuensi buang air kecil akan sangat jarang, dan
urine yang keluar biasanya berwarna sangat pekat atau gelap.
- Kebingungan atau Halusinasi (Delirium): Seseorang mungkin mulai meracau, mengalami
disorientasi waktu dan tempat, atau mengaku "melihat" anggota
keluarga yang sudah lama meninggal dunia. Secara medis, ini dipicu oleh
ketidakseimbangan kimiawi di otak akibat penurunan fungsi organ.
3. Fase Beberapa Jam
Sebelum Meninggal (Fase Aktif / Sakaratul Maut)
- Suara Napas Bergemuruh (Death Rattle): Pola napas menjadi sangat dangkal, cepat,
atau diselingi henti napas sejenak selama beberapa detik (napas Cheyne-Stokes).
Karena mereka kehilangan kemampuan untuk menelan, air liur atau lendir
akan terkumpul di tenggorokan, menciptakan suara erangan atau gemuruh yang
khas saat bernapas.
- Penurunan Kesadaran Total: Mereka tidak lagi merespons suara, sentuhan,
atau rangsangan dari luar. Meskipun matanya mungkin setengah terbuka atau
tertutup, mereka berada dalam kondisi koma/tidak sadar.
- Relaksasi Otot Wajah: Otot-otot tubuh menjadi sangat lemas. Rahang
bawah biasanya akan turun atau terbuka, dan wajah terlihat sangat rileks
atau pasrah.
- Pandangan Mata Menatap ke Atas: Sesuai dengan hadis yang kita bahas
sebelumnya, di detik-detik terakhir atau sesaat setelah napas berhenti,
kelopak mata sering kali tetap terbuka dengan kornea mata yang mengarah ke
atas atau terfiksasi pada satu titik kosong.
💡 Apa yang Harus Dilakukan Keluarga?
Jika tanda-tanda di atas
(terutama fase ke-3) sudah terlihat, berikut adalah adab dan tindakan terbaik
yang bisa kita lakukan sebagai pendamping:
- Berikan Kenyamanan Fisik: Basahi bibir mereka yang kering dengan kapas
basah, jaga suhu ruangan agar tetap nyaman, dan miringkan tubuh mereka
dengan lembut jika suara napas bergemuruhnya terdengar menyiksa.
- Bimbing dengan Lembut (Talqin): Bisikkan kalimat Lâ ilâha illallâh
atau kata Allah secara perlahan, tenang, dan berulang-ulang di
telinga mereka. Jangan memaksa mereka mengikuti jika mereka sudah tidak
mampu, cukup biarkan mereka mendengarnya di akhir hayat.
- Kondisikan Ruangan Tetap Tenang: Hindari tangisan histeris, keributan, atau
perdebatan di dekat kasur mereka. Bacakan ayat suci Al-Qur'an (seperti
Surat Yasin) atau zikir dengan suara yang lembut.
- Ikhlaskan dan Doakan: Bisikkan kata-kata yang menenangkan bahwa
keluarga sudah ikhlas dan memaafkan semua kesalahannya, agar batin mereka
tenang dalam melepaskan sisa napasnya.
Komentar
Posting Komentar