Jamaah shalat
Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita
tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, menjalankan
segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal
terbaik menuju kehidupan abadi di akhirat.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Marilah kita senantiasa
meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan
segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal
terbaik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita
renungkan tentang kemuliaan menjadi pemimpin yang amanah.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Kepemimpinan dalam Islam bukan
sekadar jabatan, kedudukan, atau kehormatan. Kepemimpinan adalah amanah yang
akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ
تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa':
58)
Setiap manusia pada hakikatnya adalah pemimpin. Ada
yang memimpin negara, daerah, organisasi, lembaga, keluarga, bahkan memimpin
dirinya sendiri.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ
مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap
kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jamaah Jum'at yang berbahagia,
Menjadi pemimpin adalah kemuliaan
apabila dijalankan dengan amanah. Seorang pemimpin yang adil akan memperoleh
kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ
عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ
"Sesungguhnya orang-orang yang adil berada di
sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya." (HR. Muslim)
Betapa agung kedudukan pemimpin
yang adil. Ia bukan hanya dicintai manusia, tetapi juga mendapatkan kemuliaan
di sisi Allah pada hari kiamat.
Bahkan dalam hadis yang terkenal
tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan
selain naungan-Nya, golongan yang disebut pertama adalah:
إِمَامٌ عَادِلٌ
"Pemimpin yang adil." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Namun kemuliaan itu hanya
diberikan kepada pemimpin yang amanah, jujur, dan bertanggung jawab.
Sebaliknya, pemimpin yang zalim akan mendapatkan ancaman yang sangat berat.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ
اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ
الْجَنَّةِ
"Tidaklah seorang hamba yang diberi amanah
memimpin rakyat lalu ia tidak menjaganya dengan baik, kecuali ia tidak akan
mencium bau surga." (HR. Bukhari)
Karena itu, seorang pemimpin hendaknya memiliki
sifat-sifat mulia: jujur, adil, bertanggung jawab, rendah hati, dan
mengutamakan kepentingan umat daripada kepentingan pribadi.
Jamaah Jum'at rahimakumullah,
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam memberikan teladan bahwa pemimpin bukanlah orang yang merasa paling
tinggi, tetapi orang yang paling siap melayani. Beliau bersabda:
سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.”
Karena itu, ukuran kemuliaan
seorang pemimpin bukanlah banyaknya orang yang tunduk kepadanya, melainkan
seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang yang dipimpinnya.
Tiga Pilar Kepemimpinan Mulia
1.
Keadilan
Menempatkan hak pada tempatnya,
tidak berat sebelah, dan tidak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi.
2.
Amanah
Menjaga kepercayaan, menepati
janji, dan melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab.
3.
Keteladanan
Pemimpin yang baik memberi contoh
terlebih dahulu sebelum memerintah orang lain.
Jamaah yang
dimuliakan Allah, tiga pilar ini saling menguatkan. Keadilan tanpa amanah mudah
berubah menjadi pencitraan. Amanah tanpa keteladanan sulit dipercaya.
Keteladanan tanpa keadilan dapat menimbulkan ketidakpuasan.
Para nabi dan
khalifah saleh menunjukkan bahwa kemuliaan kepemimpinan lahir dari pengorbanan,
bukan kemewahan. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dikenal karena
kesederhanaannya dan keberaniannya mengoreksi diri. Ketika seorang pemimpin
takut dikritik, itu pertanda amanah mulai terancam.
Prinsip penting
Pemimpin yang kuat bukan yang
anti-kritik, tetapi yang mau memperbaiki diri.
Kepemimpinan Dimulai dari Rumah
Tidak semua
orang memimpin lembaga besar, tetapi setiap orang memiliki wilayah
kepemimpinan. Contoh;
|
Ruang
kepemimpinan |
Bentuk
amanah |
|
Keluarga |
Mendidik, melindungi, dan
memberi nafkah yang halal. |
|
Pekerjaan |
Jujur, disiplin, dan tidak
menyalahgunakan fasilitas. |
|
Masyarakat |
Menjadi teladan dalam akhlak
dan kepedulian sosial. |
|
Diri sendiri |
Mengendalikan hawa nafsu dan
menjaga ibadah. |
Sering kali seseorang ingin memimpin orang banyak, tetapi belum mampu
memimpin dirinya sendiri. Padahal kepemimpinan terbesar dimulai dari
pengendalian diri.
Tanda Pemimpin yang Dicintai
Allah
1.
Mendahulukan
kepentingan umat
Ia rela berkorban demi kebaikan
bersama, bukan memperkaya diri.
2.
Mudah diakses
dan mendengar
Ia mau mendengar keluhan, kritik,
dan kebutuhan masyarakat.
3.
Tidak sombong
dengan jabatan
Ia sadar bahwa kekuasaan hanyalah
titipan yang bisa dicabut kapan saja.
4.
Mendorong
kebaikan dan mencegah kemungkaran
Ia menjadikan jabatan sebagai
sarana ibadah, bukan alat kesewenang-wenangan.
Jamaah Jum'at rahimakumullah,
Kemuliaan menjadi pemimpin bukan
karena kursi yang diduduki, melainkan karena amanah yang dijaga. Semakin besar
kekuasaan, semakin besar pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Maka
siapa pun yang diberi amanah memimpin, hendaklah ia menjadikan jabatan sebagai
jalan ibadah dan pelayanan, bukan sebagai sarana kesombongan.
Semoga Allah menjadikan kita
pribadi-pribadi yang mampu memimpin diri, keluarga, dan masyarakat dengan adil,
amanah, dan penuh ketakwaan. Aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

Komentar
Posting Komentar